Kasih Sayang yang Berharga

Duduk sendirian seorang anak laki-laki di kelasnya pada saat jam istirahat. Anak ini masih berumur sepuluh tahun. Merenung sendirian di kelas, tidak bermain bersama anak-anak lainnya. Ibu Guru yang heran melihat tingkah laku anak tersebut datang menghampirinya, kemudian menyapa anak itu.

Nak, kenapa engkau tidak bermain bersama teman-temanmu?”.



”Aku tidak sebahagia mereka. Mereka hidup dalam kasih sayang orang tua, berbeda denganku yang hanya seorang anak yatim piatu”., jawab anak tersebut.

Dimana orang tuamu?? Mengapa kamu berpikir demikian??”. Tanya Ibu Guru.

Kedua orang tuaku telah tiada, ibu meninggal ketika melahirkan aku dan bapak meninggal terkena penyakit kanker otak ketika aku berumur 6 tahun. Aku tak pernah merasakan kasih sayang dari siapapun, bahkan guru-guru pun tidak memperhatikan aku karena sifatku yang seperti ini (pendiam dan pemurung)”.

”Di mana kamu tinggal nak??” Tanya guru itu.

Aku tinggal di panti Asuhan. Sebelumnya aku tinggal di jalan-jalan kota, saat perut kosong aku pergi keberbagai restoran dan warung makan, aku tak meminta makanan tapi meminta pekerjaan di setiap rumah makan tersebut dengan gaji makanan sebagai imbalannya”.

Karena merasa iba, akhirnya Guru itu mengadopsi anak tersebut. Kebetulan guru itu belum menikah dan belum memiliki anak sehingga dia curahkan kasih sayang kepada anak itu sepenuh hati bagai anak sendiri.

Waktu terus berlalu, anak laki-laki itu mulai menunjukkan raut-raut wajah kebahagiaannya. Menjadi lebih menyenangkan dan selalu bergembira bermain bersama anak-anak lainnya.

Namun, sebulan kemudian anak tersebut meninggal akibat ditabrak pengemudi truk yang mabuk saat menyeberang jalan, ketika akan berangkat ke sekolah.

Betapa sedih hati Ibu Tirinya. Kehilangan anak yang baru diadopsi selama sebulan. Keesokkan harinya, saat merapikan kamar anak tersebut, sang ibu menemukan sepucuk surat di bawah bantal anaknya.

——————————————————————

Ibu…

Terima Kasih untuk kasih sayang yang engkau berikan kepadaku..

Aku selalu berdoa kepada tuhan, meminta agar nyawaku jangan diambil sebelum merasakan Indahnya kasih sayang..

Jika Ibu membaca surat ini, berarti doaku terkabulkan…


Biarkan aku pergi membawa kasih sayang Ibu..

Aku sangat menyayangi Ibu…

———————————————————————

Seketika menangislah sang Ibu.

Nak, kamu bukan anak kandungku. Bahkan hanya sebulan saja engkau merasakan kasih sayang dariku. Namun dari semua orang yang pernah kutemui, kamulah satu-satunya orang yang menghargai kasih sayangku. Kamu berbeda nak. Ibu juga sangat menyayangimu”. Ungkap sang ibu sambil mengucurkan air mata.

~ oleh azzaam pada 7 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: