cinta itu… (ocit story’s)

”Kini biaslah sudah segala ragu kala cinta itu menyapa, menguap seperti embun pagi dan lenyap kala sinaran mentari mencerahkan dunia. Ia datang dengan langkah–langkah kecil namun pasti, membawa semburat ceria tuk warnai hari. Ketika dengan lugunya ku bertanya apa itu cinta? ia tak menjawab, karena cinta tak mudah diungkapkan, tak mudah dijabarkan”.

Hari itu terasa sangat berat, terlampau berat. Saat ku terbangun dari tidurku dan aku tahu bahwa aku tetap sendiri seolah tiada yang menyapaku. Kupalingkan wajahku kearah jendela, aku hanya tersenyum simpul tanpa makna, mungkin karena ruh ini belum kembali ke tubuhku.

Yah, aku adalah seorang pria delapan belas tahun waktu itu, dimana segala tujuan hidupku tidak tertata atau bahkan belum terencana. Aku lewati hari dengan tatapan kosong, karena aku tidak pernah mendapatkan hari–hariku yang lebih istimewa, lebih indah dari saat–saat setelah aku mengenalnya.

Dina namanya, seorang wanita yang selalu ajarkan aku arti sebuah kehidupan. Entah mengapa saat itu aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh. Pembawaannya kah?? Atau mungkin sudut pandangnya yang selalu teduhkan jiwa ini, kala aku mengeluh dengan bodohnya karena menyalahi takdir hidupku sendiri. Walaupun aku hanya mengenalnya lewat dunia maya dan aku belum pernah bertemu sebelumnya, bahkan setelah kami berkomitmen tuk tetap jalani kisah kami yang bermodalkan keyakinan dan setia.

***

”Aku hanyalah seorang pria yang bermodalkan kata–kata, bersenjatakan sebuah pena, dan memiliki harapan tuk dapatkan wanita dengan hati yang mulia… Bukan, bukan diriku yang memaksa. Namun hati ini seolah tak rela saat dia tak ada”.

Pernah suatu ketika sebelum ku ungkapkan cintaku padanya dan dia (mungkin) masih menungguku, aku kehilangan kontak dengannya. Gemuruh hati ini kala tak disapa sehari saja. Seolah ku terjerembab dalam lingkaran gelap.

Aku bingung, ingin bertanya pada siapa, sementara dia jauh di seberang sana dan aku benar–benar belum pernah bertemu dengannya. Aku hampir putus asa dan menganggap bahwa aku telah beruntung pernah mengenalnya. Tiba–tiba ‘dia’ kembali. Aku bangkit dari mati suriku, bersemangat ku menyambutnya. Kini tak lagi sungkan ku ungkapkan bahwa aku merindunya.

Setelah puluhan hari yang kulewati tanpa kabar darinya, dan aku benar–benar seperti tersihir. Seolah padang tandus di hatiku kembali berbunga, setelah sempat layu pekarangan itu. Dia menyapaku lebih hangat. Mungkin dia juga merinduku, entahlah hanya ia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi disana. Kuharap saat itu ia merasakan hal yang sama denganku.

***

From : Ocheatz

Message : Dina gw kangen sama lu. Gw gak tahu nih tiba-tiba aja kangen banget.. mungkin gw semakin kesepian kali yah… Coz temen2 gw seperti yang gw bilang ”sudah sibuk sama urusannya masing2”. Sedih banget ya gw. Din.. menurut lu, gw lemah enggak sih sebagai cowok?? Coz kalau ada apa2 pasti gw cerita ke temen2 gw. Tapi karena temen2 gw dah pada berubah atau mungkin BT kali ya denger masalah gw (hehehe), sori kalau gw jadi suka repotin lu. Jangan pernah bosen ya denger masalah gw. Thanks banget buat semuanya, mungkin kalau situasinya enggak kayak gini, enggak terpisah ruang yang jauh, gw akan ”…………” dari dulu.

From : Dina

Message : Yah, apa lagi gw. Kangen ngobrol2 sama lu deh. Lu juga tahu kan kalau temen2 gw semuanya udah pada kuliah yang ambil D3, S1, bahkan banyak juga sahabat gw yang kuliah di luar, tapi gw apa? Gw cuma D1. Lu enggak lemah sebagai cowok menurut gw. Gak mungkinlah kalau lu punya masalah disimpen sendirian. Manusia kan makhluk sosial yang hidup saling membutuhkan, ya kan? (lu pasti tahu itu). Bukan cuma lu yang begitu, temen2 lu juga kalau ada apa2 pasti mereka curhat2an. Nah berarti bukan cuma lu yang ada masalah, temen2 lu juga, gw juga. Dan lu juga harus tahu kalau temen2 lu gak mungkin selalu ada buat lu, iya kan?. Gw juga, tapi selagi gw masih ada dan bisa gw bakal ngelakuin apapun. Gw enggak akan bosen denger curhat2an lu. Gw juga ngerasa kayak lu, gw ngerasa kalau lu bosen dengerin cerita2 gw. Thanks juga yah buat semuanya. Jujur, sahabat gw yang kayak lu cuma ada dua, yang satu nya cewek. Temen gw dari kecil, udah kayak sodara gitu. Tapi sekarang dia kuliah di malaysia. Lu bayangin aja gimana rasanya jauh dari semua sahabat2 yang gw sayangin di dunia ini.

***

”Cinta melandaku, saat aku belum mengenal apa itu cinta… Walau hati meyakinkan aku, tapi aku malu menatapnya… Aku malu mengakui jika aku jatuh cinta… Dan aku yakin betapa tololnya rupaku dibuatnya, karena tak berani akui cinta….”.

Debar dijantungku semakin kencang, degup itu melanda kala message darinya aku baca. Mungkin karena aku telah terbiasa berhubungan dengannya via e-mail, aku telah miliki jadwal balasan message darinya.

Kata–kata darinya kian hari makin membuatku kagum. Aku tertarik dengan Chairil Anwar, namun aku berani bertaruh bahwa rangkaian kata darinya lebih menggugah dari rangkaian siapapun. Semakin ia mengenalku, semakin dalam juga makna dari tiap kata untukku. Aku tak suka digurui, akan tetapi ‘petuah’ darinya membimbing aku ke arah yang lebih baik, tanpa ada nada menggurui. Hingga suatu hari degup itu makin membuat aku takut kehilangan, takut lost contact dengannya, seperti yang terjadi beberapa bulan lalu. Akupun merasa akhir–akhir ini kata–kata darinya mengandung makna yang entah aku tak tahu apa. Kata yang seolah mengisyaratkan bahwa dia menyayangiku lebih dari seorang teman.

***

From : Dina

Message : Lu belum kelar yah karantina? atau apa lah. Kok sms gw gak di bales2?? Lu gak apa-apa kan?? Gw yakin sekarang lu dah gak kesepian lagi, gak kaya gw disini. Gw gak tahu harus ngapain lagi dengan rutinitas2 gw yang membosankan ini. Gw BT banget… Gw cewek normal and manusia biasa yang haus ‘kasih sayang’ (gw yakin setiap manusia biasa pasti gitu).

***

”Tergoyah jerat nadiku, tersentak suara parau… Terselimuti jiwa ini oleh impian tak terjamah… Sapuan semilir angin tak mampu membawaku berlalu… Gundah yang teramat parah, karena ada kehangatan tak terungkap, terkunci erat… Asing diriku oleh rasa ini… Rasa hangat layaknya musim semi karena kuncup cinta ini hampir berbunga… ”

Aku bimbang karena aku inginkan dia lebih dari sekedar teman, tapi aku tak ingin kehilangan teman. Disinilah cintaku tersudut, karena apabila dia tak memiliki rasa apa–apa, mungkin dia akan menjauh dariku, menghindariku atau malah hilang dari hidupku. Sementara aku semakin membutuhkannya, semakin ingin menjadi bagian darinya, semakin takut jika ia miliki pujaan hati yang ternyata bukan aku. Aku tidak bisa tidur memikirkannya, sampai–sampai aku sakit tanpa sebab. Mungkin karena aku tak pernah berfikir berat sebelumnya, karena aku pemalas.

Mengungkapkan cinta aku malu, aku tak terbiasa dengan keadaan ini. Disisi lain, ia seolah menunggu kepastian dariku, kepastian dari sikapku yang berubah akhir–akhir ini terhadapnya. Karena yang aku tahu, wanita butuh kepastian. Di satu sisi aku bersemangat karena apapun yang terjadi keraguanku harus terjawab. Namun disisi lain apabila aku bukanlah pujaan hatinya, aku takut kehilangan dan apabila sebaliknya, takut menjalani hubungan ini dengan jarak yang berjauhan. Situasi ini membuatku tak berdaya, terlihat tolol dan penuh ketidak pastian. Sementara suara hati selalu inginkan aku berkata jujur kepadanya.

***

” Aku ini lelaki, jika ku terus bungkam maka aku banci… Aku ini lelaki, tak pantas rasanya bila aku tak berani akui… Aku ini lelaki, jadi wajar saja jika aku jatuh hati… Aku ini lelaki, jadi aku harus berjuang layaknya lelaki… ”.

Akhirnya tanggal 7 Januari aku putuskan untuk ungkapkan seluruh isi hatiku dan kukatakan padanya betapa aku pernah memimpikannya. Mimpi yang sangat terasa nyata. Jari–jariku penuh keringat dan gemetar kala menekan tuts keyboard di warnet sore itu, begitu juga dengan kening dan sekujur tubuhku yang seolah dibanjiri oleh keringat. Aku hampir mati lemas karena sontakan jantungku bekerja lebih keras dari biasanya. Dengan segenap harapan, aku rela apapun keputusannya, dan harapku agar aku dapat menjadi pendamping hatinya walau aku jauh.

Sementara di seberang sana aku tak tau apakah dia suka atau tidak dengan ungkapan hatiku yang ku tulis dalam surat elektronik tersebut. Karena aku yakin tidak mudah mengubah hubungan pertemanan menjadi hubungan yang lebih serius.

***

From : Ocheatz

Message : Yup, gw lom kelar ujiannya. Nih gw lagi cabut keluar buat baca message lu. Bay the way, nomer lu ganti ya? Gw pernah nyoba mau telpon lu pakai nomer temen, tapi kok gak aktif? (Gw gak bawa hp, cuma bawa nomer. Jadi amat jarang banget aktif). Thanks ya, sudah mau nolong and denger curhat gw yang panjang lebar and tragis. Gw masih kesepian kok, juga rada sensi sama temen gw yang banyak berubah. Gw pernah nanya ke mantan gw “apa gw egois?”. Tapi mantan gw enggak bisa jawab. Gw nanya itu coz temen gw pernah ada yg ngomong ke gw. Memang sih ngomongnya gak serius, tapi jadi kepikiran terus. Gw mo nanya ke temen gw yang laen, tapi kayaknya dia lagi sibuk ma urusan masing2. Akhirnya gw pikir ”gak apa lah gw egois, masa gw mesti nurutin kemauan orang terus”. Hmm.. lu temen yang paling baik sejagat deh, gw terharu banget neh… hiks2… Dulu waktu smp gw juga pernah punya temen yang baik banget, sampai dah gw anggap sodara, tapi cowok loh!! (coz kalau cewe gw pacarin kale..). Tuh anak care banget, sampe gw punya standarisasi temen deket gw harus kayak dia, tapi ternyata gak ada. Sampai akhirnya gw kenal lu & gw ngerasa sosok temen gw yang dulu ada sama lu. Tapi kenapa lu jauh banget yah? Coba kalau deket ‘…….’.

Din, gw pernah mimpi ketemu lu. Biar cuma mimpi, tapi gw seneng banget deh. Makanya pas gw bangun, gw langsung mau telpon lu. Tapi gak aktif. Gw kagum banget sama lu yang ternyata lu lebih kuat dari gw & lu juga lebih realistis dari gw. Mungkin kalau lu baca message gw yang bejibun itu, lu anggap gw orang yang gampang bergaul. Padahal gw gak gitu, gw kadang pendiem and childish abis. Itu semua gara2 gw tahan semua beban gw, dan gw biasa numpahin uneg2 ke buku atau gw tulis message ke lu kayak yang lu baca sekarang. Abis gw bingung mo ngapain. Bay the way, mungkin gak.. kalau gw suatu saat nembak lu, lu terima? Yang pastinya hubungan jarak jauh? Tapi jangan lu ambil pusing pertanyaan gw. Coz gw gak mau ngebebanin lu. Gw dah seneng lu mau jadi temen gw. Gw gak mau egois sama lu… Jadi kalau lu suatu hari ngerasa gw dah buat lu gak nyaman, tolong bilang ke gw dengan jujur. Biar gw bisa berubah saat itu juga… Okey… Keep friendship… Miss u…

***

”Tiba saatnya, seolah jantungku ingin meloncat dari rongga dada, akal sehatku berhenti berputar… Aku seperti tersengat… Aku tak percaya, karena ternyata cintaku bersambut… Seperti duniaku berhiaskan pelangi… Ah, cinta ini telalu indah dari apa yang aku bayangkan…”.

Jawaban itu datang tak sampai berganti hari setelah aku curahkan isi hatiku. Dengan ragu ku arahkan mouse pada inbox. Setelah aku baca kata–kata pada message terbaru darinya, sungguh aku terperangah. Karena dia telah lama menungguku tuk ungkapkan rasa itu, telah lama ia meyakinkan aku bahwa dia benar–benar menyayangiku, namun apa daya responku terlalu lambat akan rasa sayang itu. Tapi tak apalah, karena dia masih setia menunggu. Jadi belumlah terlambat dan satu kekhawatiranku telah terbantahkan.

Mungkin menjalani hubungan jarak jauh tidaklah semenakutkan seperti apa yang dikatakan banyak orang. Entahlah, aku terlalu bahagia saat itu hingga belum terfikir bagaimana hubunganku ke depan. Aku jalani saja anugerah ini. Aku yakin ini adalah kebahagiaan karena hatiku, detak jantungku, pembuluh darahku, hingga seluruh sel dalam tubuhku ikut bersorak gembira.

***

From : Dina

Message : Sekarang gw mau jujur sama lu… Gw mikir umur kita sama dan pastinya sifat kita gak jauh beda… Nah, gw fikir lu juga pasti ngerasain apa yang gw rasain saat gw kenal lu… Apalagi harus setiap hari kepikiran lu & nungguin message lu… Emang gw enggak pernah mimpiin lu, tapi bukan berarti gw gak mikirin lu… Gw ‘sayang’ sama lu and apalah… Gw tahu kita gak boleh (-) think, tapi gw kadang berfikir kalau kita itu gak mungkin bisa ketemu. Walaupun gw juga tahu apa sih yang gak mungkin di dunia ini. Dan soal gw bakal bosen atau terganggu karena lu, ya enggak lah… Coz gw bukan orang yang kayak gitu. Kecuali sama orang yang jahat sama gw… Oh ya, nomer telpon gw enggak pernah ganti kok cuma satu itu doank…

From : Ocheatz

Message : Din… Gw gak lagi mimpi kan lu bener2 ‘sayang’ ma gw??? gw kira cuma dalam mimpi gw lu bilang itu… It’s so sweet… Gw enggak bisa ngomong apa2 lagi. Coz gw malu + seneng banget. Tapi gw cuma bisa berharap kalau secepatnya gw bisa ketemu lu.

From : Dina

Message : Eh jujur gw gak bisa long distance… Coz lu tahu kan kalau gw butuh banget seorang cowok yang bisa jadi semuanya buat gw. Yang bisa jadi ayah gw, kakak gw, sahabat gw. Duh, kapan yah gw bisa ketemu lu and bisa ada di deket lu??? gw kangen banget ngobrol sama lu…

From : Ocheatz

Message : Kalau gw dulu pertama kali ngeliat friendster lu, rasa itu lom ada. Tapi lama2 semakin gw kenal lu, gw semakin ngerasa lu tuh punya arti buat gw. Makanya gw enggak tahu harus gimana waktu itu, waktu lu pertama kali nelpon gw. Gw dah ngerasa ada yang lain dalam diri lu, tapi perasaan itu selalu gw pungkiri. Coz gw dulu masih trauma buat menyayangi orang lain. Tapi sekarang gw yakin, gw ‘sayang’ sama lu. Gw enggak terpaksa kok buat nyayangin lu. Gw tulus. Gw juga bukan tipe orang yang suka dipaksa2. Jadi lu jangan khawatir, coz ini murni dari lubuk hati gw. Waktu lu mau jadi temen gw, gw dah senang kok. Gw bahagia. Sekarang gw tahu lu ‘sayang’ sama gw, apapun alasan lu nyayangin gw, gw terima. Kalau soal ketemuan sih kita banyak2 berdoa aja., okey.. Emm.. Dina, gw kangen banget sama lu. Mungkin lu juga bisa ngerasain perasaan gw sekarang. Kadang gw takut ngadepin akhir dari semua ini, tapi gw yakin semuanya pasti ada hikmahnya. Kalau pun kita bener2 gak bakal ketemu seumur hidup, gw masih bisa nemuin lu dalam mimpi2 gw, dalam khayalan2 gw. Thanks.. coz sekarang gw dah bisa ngerasain gimana disayangin orang lain, gw bisa ngangenin seseorang yang menyayangi gw, gw bisa ketemu orang yang gw ‘sayang’ walau dalam mimpi. Gw tahu, lu bimbang ngadepin semuanya, hati lu juga terpecah antara nganggep gw cuma sebatas orang yang hampir gak mungkin lu temuin & gw sebagai orang yang lu ‘sayang’. Gw juga sama, gw juga bimbang atas semua ini. Tapi kita jalanin aja coz semua ada yang ngatur. Harapan gw, kita ketemu dan membentuk keluarga yang bahagia (am i dreamer??).Yah semoga itu bukan cuma mimpi2 gw dan angan belaka. Gw pengen itu nyata. Tapi kalaupun itu enggak terjadi, gw gak akan menyesal kenal lu. Coz lu dah jadi bagian dari cerita hidup gw yang cuma sekali ini. Thanks dah nyayangin gw dan gak usah ragu, coz gw juga nyayangin lu ‘tulus’!!

From : Dina

Message : Mungkin Allah denger semua doa gw… Oh ya, ada cerita yang lupa gw ketik tentang mimpi gw. Malam itu lu pegang tangan gw kayaknya itu bener2 nyata deh rasanya dan yakin banget, tapi… ‘just dream’. Lu tahu tanpa massage lu and cerita2 dari lu gw enggak tahu harus cerita2 apa ke buku harian gw and rasanya ada yang kurang di hari2nya gw… Terserah lu mau bilang apa tentang gw. Semakin hari gw semakin sayang sama lu and gw ngerasa kalau lu orang yang bener2 pantes gw tunggu dalem hidup gw… Dan gw enggak tahu lagi gimana caranya buat ngungkapin ini semua… “bukan lebih indah bagimu jika kau mau terbuka padaku dunia kan terasa lebih indah jika hati kita tak diselimuti gundah, coba untuk selalu tersenyum sejukan suasana hatimu bila masih kau rasakan gundah dengarkan kata hatimu dan tetap junjunglah”. Satu lagi, lu pasti juga ngerasa hal yg sama kayak gw… Gw yakin lu masih cinta ama mantan lu… Gw juga, 1st love gw empat tahun yang lalu and masih gw tunggu bisa sama2 dia lagi, lu juga tahu kalau cinta pertama adalah orang pertama yang ngasih kita cinta di dunia ini selain keluarga kita… Dan lu tahu kan berhubung cinta itu bukan barang yang enggak akan pernah bisa hilang yang kita simpen di hati kita sampai kapanpun dan bakal kita bawa sampai mati… Cinta aneh yah (tragis)… “kemungkinan kita tidak akan menikah dengan cinta pertama kita, kemungkinan kita mengira akan menikah dengan cinta pertama kita” Udahlah… Yang penting sekarang gw sayang banget sama lu…

***

”Aku hanyalah manusia biasa, lagi–lagi aku terserang keraguan… Bodohnya aku tuk menyangsikan cintanya… Lemahnya batinku membuatku terkadang curiga… Aku sungguh bahagia, tapi egoisku membuat aku tak pernah bertanya tentangnya… Apakah ia bahagia disana, apakah aku penuhi harapannya… Apakah kita kan bertemu ???”.

Hampir satu setengah tahun aku jalani kisah ini dengannya, banyak yang mencibir dan menganggap kita gila. Terkadang dia bercerita bagaimana tertekannya mempertahankan hubungan ini karena intimidasi dari orang–orang sekitar. Begitu juga denganku yang terkadang iri melihat kisah yang lain. Betapa mereka dengan mudah dapat bertemu dan lewati hari–hari bersama.

Kini aku telah masuk perguruan tinggi negri di Bandung, pada awal–awal kuliah banyak yang menyarankan aku untuk mencari kekasih lain. Tapi aku menolak, walau terkadang aku ragu. Satu setengah tahun bukanlah waktu yang pendek untuk dijalani, namun bukanlah perjalanan jauh untuk memahami sedalam apa cinta yang telah dijalani.

Pernah suatu ketika aku miliki keinginan untuk mendua dengan yang lain, bahkan mendekati batas akhir setiaku saat itu. Bukan aku ragukan cinta darinya, tapi karena aku sendiri tak yakin apakah aku dapat bertemu dengannya. Aku sempat bertanya kepada diriku, dosakah aku apabila segala janji yang telah aku ucapkan terlanggar jika umurku tak sampai sebelum aku bertemu dengannya.

***

Cinta tak pernah bertanya seberapa ragu diriku, cinta hanya ingin tahu sejauh mana aku meyakini hatinya… Cinta tidaklah buta, karena aku akan selalu ingat alasanku memilih tuk menjalani kisah ini bersamanya… Cinta bukan juga suatu ajang tuk menunjukkan siapa aku, karena cinta tak pernah memandang kasta… Cinta itu putih polos, sedang aku hanya serangga yang coba tuk menodainya… kini maafkan aku cinta, ini semua terjadi karena aku belum mengenal cinta sepenuhnya… ”.

Tibalah titik balik dalam hubunganku dengannya, semenjak ada seorang teman yang dengan bijaknya berkata bahwa aku sangat beruntung memiliki kekasih yang setia dan paras wajahnya menggambarkan keceriaan. Aku mulai membuka–buka message darinya. Aku membaca semuanya dari awal aku mengenalnya hingga saat ini, saat langkahku sejauh ini. Aku tak mampu menahan air mata, masa bodoh jika lelaki tak boleh menangis, karena kata-kata darinya memancarkan rasa sayang yang mendalam dan aku mencoba tuk menodainya!!! Sungguh memalukan buatku.

Itulah masa kelam hubunganku dengannya. Aku mulai hapuskan angan tuk mendua, karena tak pernah ada bahagia saat ku ingin membuat noda dalam ketulusan cintanya. Akhirnya dia datang, dia datang untuk menemuiku. Di kota Tangerang awal aku berjumpa dengannya. Sungguh, matanya begitu memukau, bening, dan bercahaya. Seolah terpancar aura ketulusan dan kesetiaan. Senyumnya teramat indah. Inilah pertama kalinya aku berjumpa dengannya.

Ia menangis saat berkata kepadaku ”akhirnya selama dua tahun aku berdoa, doaku terkabulkan”. Aku tak tega melihatnya, akupun yakin banyak orang yang takkan tega melihat ia menangis. Walau hanya setetes air mata bahagia. Sejenak aku berfikir betapa bodohnya aku apabila aku benar–benar ingin mendua, betapa berdosanya aku bila kubuat ia terluka.

Sejak saat itu, keyakinanku bertambah dan tekadku membulat tuk jadikan dirinya cinta terakhirku, karena aku telah menemukan kekasih yang sempurna untukku.

Ya benar, disanalah ku labuhkan cintaku, di pelabuhan hatinya dan dalam dekapan cintanya… Sejak saat itu langkahku semakin ‘mantap’, tak ada lagi keraguan dan aku memiliki keinginan tuk habiskan ‘sisa hidupku’ disisinya. Hingga kelak aku telah renta dan jatuh sakit, aku ingin mati dipeluknya, dikelilingi anak–anak kami dan cucu–cucu kami. Aku sadar hidup ini singkat, namun kutemukan arti hidup ini saat awal kami saling mengenal dimana ia pernah berkata bahwa ”penderitaan hidupku hanyalah sebagian kecil dari penderitaan hidup orang–orang yang ada di seluruh dunia”. Dia yang ajarkan aku agar tak lekas putus asa, agar aku miliki cita–cita dan kini aku berani menatap kedepan. Menatap kearah kebahagiaan yang telah diciptakan Tuhan dengan segala cobaannya. Aku yakin ini jalan yang diberikan agar aku dapat menjadi orang yang baru, orang yang lebih kuat dalam menjalani hidup.

”Cinta bukanlah hal yang sulit… Cukup dengarkan kata hati, maka itulah cinta… Cinta bukanlah ruang dan waktu… Karena ruang dan waktu dapat terhenti saat kami dipertemukan, walau waktu terasa begitu cepat menggilas moment besama… Namun segalanya berikan kesan, berikan keindahan, berikan makna dan berikan rasa yang tetap tak bisa terungkap… Rasa itu bernama cinta…”.

Dedicated for Dina Leonita

~ oleh azzaam pada 12 September 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: