Met ULTah..
Besok adalah hari ulang tahun mantanku, tapi entah kenapa.. aku merasa bimbang. Bimbang tuk mengucapan “Selamat Ulang Tahun” buatnya. Ada alasan tersendiri yang membuat diriku bimbang seperti ini, salah satu alasannya mungkin karena rasa gengsi.
Ya, masih terpelik sedikit rasa gengsi untuk mengucapkan kata itu. Lama sudah aku tidak mengobrol dengannya (karena memang dia juga tidak pernah menyapa diriku). Aku merasa canggung jika menyapa hanya sekadar mengucapkan :
“Selamat Ulang Tahun, yah… Jangan lupa makan-makannya. Semoga hari ini hidupmu makin Indah. Menjadi Lebih bijaksana. Mendapatkan orang yang dicinta (pasti akan terasa sesak dadaku sewaktu menuliskan kata seperti ini).
Aku tidak ingin berkata seperti itu kepadanya. Tidak bisa..
Banyak yang menyarankan kepadaku untuk melupakannya (baca: pura-pura lupa). Tapi juga tetap tidak bisa. Bagaimana tidak? Hari Ulang Tahun mantanku bertepatan dengan hari Ulang Tahun Ibuku.
Jika tidak mengucapkan apa-apa, Aku juga kelak akan merasa bersalah.. bersalah karena tidak memperdulikannya. Bersalah karena aku pernah berjanji untuk tetap menyayanginya. Bersalah kepada paradigmaku yang menganggap cinta pertama adalah anugrah yang indah. Dan dialah “Cinta Pertamaku”. Lalu, jika aku tidak mengucapkan sesuatu kata untuknya di hari Ulang Tahunnya, sama saja aku mengingkari semua perkataanku dan mengingkari anugrah yang indah. Seolah-olah seperti lari dari kenyataan.
Ada satu lagi yang bikin aku merasa berat untuk mengucapkan kata itu. Tahun lalu aku mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untuknya dan juga memberikan hadiah kado di hari ulang tahunnya. Tapi tidak ada satupun respon yang kudapat darinya (oh, my God). Aku ngerasa.. ngerasa dia tidak membutuhkan perhatianku. Dan kecurigaan itu menjadi semakin yakin tatkala dihari Ulang Tahunku dia diem tanpa ucapan selamat!! (padahal ulang tahunku dan ulang tahunnya hanya berjarak 2 bulan)
Baiklah, aku mengalah jika tidak mendapat kado Ulang Tahun, tapi ini… ucapan pun tak aku dapatkan. Jujur, aku memang sangat menginginkan ucapan darinya. Mungkin itu adalah harapan terbesarku saat itu.
Tak lama kemudian aku mendapat nasehat yang indah dari seorang temanku. Mungkin bukan bagian dari nasehat, tapi sebuah saran yang baik.
Dia mengatakan “Jikalau kamu menghargainya, ucapkan saja walau tidak mengirimkankan kado”. Kemudian dia melanjutkan, “Just Say Met Ultah.. gak usah pake kata-kata lain lagi”.
Mendengar jawabannya aku jadi bingung dan bertanya, “Alasannya?”
Dia menjawab, “Ya, itu cuma buat memastikan kalau kamu tidak lupa sama dia. Tapi juga ngartiin kalau dia gak selamanya mempengaruhi hidup kamu”.
Aku terdiam lama….
Jawaban ini masuk akal buatku. Aku setuju dengan saran temanku itu. Sekarang aku tidak bimbang lagi, aku menjadi yakin untuk ucapkan “Met ULTah..” kepada orang yang pernah aku sayang.
Well, ini jawaban yang aku butuhkan. Aku menjadi lega… sangat lega…
Bahkan sempat heran juga, kenapa aku terlalu mengambil pusing hanya karena masalah ucapan Selamat Ulang Tahun? Sebenarnya tidaklah terlalu sulit jika sekedar megucapkan kata “Met ULtah..”. Aku tidak berpikir sampai sejauh temanku itu, walau kata-katanya sangat umum didengar namun penuh makna.
Terima kasih teman untuk saran itu.
Aku akan memberikan selamat untuk dia yang pernah kusayangi dengan perasaan ikhlas. Terima kasih.



Ada satu lagi yang bikin aku merasa berat untuk mengucapkan kata itu. Tahun lalu aku mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untuknya dan juga memberikan hadiah kado di hari ulang tahunnya. Tapi tidak ada satupun respon yang kudapat darinya (oh, my God). Aku ngerasa.. ngerasa dia tidak membutuhkan perhatianku. Dan kecurigaan itu menjadi semakin yakin tatkala dihari Ulang Tahunku dia diem tanpa ucapan!! (padahal ulang tahunku dan ulang tahunnya hanya berjarak 2 bulan)
belajar tuk menerima, maka kau kan dewasa
oke
sudah ikhlas kok…